Minggu, 26 Oktober 2014

Karakteristik Individu


1.      Pengertian Individu

Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun objek materil yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagai mana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berfikir atau “homo sapiens”, makhluk yang berbentuk atau “homo faber”, makhluk yang dapat dididiki atau “homo educandum”, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan  cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersbut. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia makhluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan bahwa yang di maksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi :
a.       Individu dan sosial,
b.      Jasmani dan rohani,
c.       Duni dan akhirat.
Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam sekitar atau lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan.
Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik, haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakikat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dalam makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dengan menetapkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat. Sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak di sandang oleh manusia, sehingga setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh.
Berdasarkan pengrtian tersebut dapat di bentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang di ingingkan.
Bukti-bukti telsh jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan perlengkapan yang sudah sempurna. Dengan sendirinya pola-pola berjalan, berbicara, merasakan, berfikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barangkali tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu atau impul-impul tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang di kembangkan anak di lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.
Sejak lahir, bahkan sejak masih di dalam kandungan ibunya, manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodrat manusia yang harus mendapat perhatian secara seksama.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Pada awal kehidupannya bagi seorang bayi mementingkan kebutuhan jasmaninya, ia belum peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya. Ia sudah merasa senang apabil kebutuhan fisiknya seperti : makan,minum, dan kehangatan tubuhnya terpenuhi. Dalam perkembangannya lebih luas. Kebutuhannya kian bertambah dan suatu saat ia membutuhkan fungsi alat berkomunikasi (bahasa) semakin penting. Ia membutuhkan teman, keamanan, dan seterusnya. Semakin besar anak, maka kebutuhan non-fisiknya semakin banyak.

2.      Karakteristik Individu

Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan dan karakteristik yang di peroleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupu faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan, kepribadian terbawa pembawaan dan lingkugan; merupakan dua faktor yang terentuk karena faktor terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakan seseorang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Seorang anak mungkin memulai pendidikan formalnya di tingkat taman kanak-kanak pada usia 4 tahun atau 5 tahun. Pada awal ia memasuki sekolah mungkin tertuda sampai ia berusia 5 atau 6 tahun. Tanpa mempedulikan berapa umur seorang anak, karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah akhirnya terbentuk oleh pengaruh lingkungan dan hal itu tampaknya mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannya di sekolah dan masa perkembangan hidupnya di kelak kemudian.
Natur merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seseorang dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseprang individu di pengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Seorang bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu garis keluarga ayah dan garis keluarga ibu. Sejak saat terjadinya pertumbuhan atau konspsinya kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan di pengaruhi oleh banyak dan bermacam-macam faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masig perangsang tersebut, baik secara terpisah atau terpadu dengan rangsangan yang lain, semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia yang di bawa sejak lahir. Hal itu akhirnya mementuk suatu pola karakteristik tingkah laku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.

3.      Perbedaan Individu

Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu : (i) semua diri manusia mempunyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya, dan (ii) Kelompok di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan sosial. Tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan - perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Individu menunjukkan kedudukan seseorang sebagai orang perorangan atau perseorangan.
Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan tersebut disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Maka “perbedaan” dalam“perbedaan individual” menurut Landgren (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Secara umum, perbedaan individual yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengajaran dikelas adalah faktor – faktor yang menyangkut kesiapan anak untuk menerima pengajaran karena perbedaan tersebut akan menentukan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Perbedaan - perbedaan tersebut harus diselesaikan dengan pendekatan individualnya juga, tetapi tetap disadari bahwa pendidikan tidak semata-mata bertujuan untuk mengembangkan individu sebagai individu, tetapi juga dalam kaitannya dengan pola kehidupan masyarakat yang bervariasi.
Bidang-Bidang Perbedaan Dalam kaitannya dengan perbedaan individu hendaknya selalu diingat bahwa perbedaan dalam kualitas atau ciri – ciri adalah berjenjang. Tidak ada penggolongan anak – anak ke dalam satu kategori atau sama sekali tidak termasuk dalam suatu kategori. Garry 1963 (Oxendine, 1984) mengkategorikan perbedaan individual ke dalam bidang – bidang berikut:
1. Perbedaan fisik: usia, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
4. Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar.
5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah. Dalam kehidupan setiap manusia berhubungan dengan manusia lain dan lingkungan di luar dirinya.
Tiap manusia berhubungan dengan manusia lain, dengan sesamanya. Manusia juga berhubungan dengan Sang Pencipta atau dengan Tuhan-nya, maka manusia beragama. Manusia hidup berkelompok dan berkeluarga, sesuai dengan sifat dan genetik orang tuanya. Secara kodrati, manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak.
Adapun bidang – bidang dari perbedaannya, yakni:

a.       Perbedaan Kognitif Menurut Bloom, proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menghasilkan 3 pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai taxonomy bloom, yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentu suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya. Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap – tiap orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Proses belajr mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang bernilai positif, diatur dan direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang telah dimiliki oleh anak. Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar. Inteligensi (kecerdasan) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Antara kecerdasan dan nilai kemampuan kognitif berkolerasi tinggi dan positif, semakin tinggi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi kemampuan kognitifnya.
b.      Perbedaan Individual dalam Kecakapan Bahasa Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbahasa dangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan serta faktor fisik (organ bicara). Banyak penelitian eksperimental telah dilakukan dengan tujuan untuk menemukan faktor – faktor psikologis yang mendasari keberhasilan atau kegagalan dalam penguasaan bahasa. Individu – individu yang memasuki kegiatan – kegiatan di sekolah formal, pada dasarnya telah membawa kebiasaan – kebiasaan sebagai hasil belajar, baik dari lingkungan pendidikan prasekolah maupun dari latar belakang kehidupan sebelumnya.
c.       Perbedaan dalam Kecakapan Motorik Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan. Kegiatan – kegiatan tersebut terjadi karena kerja saraf yang sistematis. ransangan indra saraf sensoris (perintah) pusat respon penerima saraf motorik (kegiatan) perintah Dari gambar di atas, saraf pusat (otak) yang melaksanakan fungsi sentral dalam proses berpikir merupakan factor penting di dalam koordinasi kecakapan motorik. Ketidaktepatan dalam pembentukan persepsi dan penyampaian perintah, akan menyebabkan terjadinya kekeliruan respon dan atau kegiatan – kegiatan yang kurang sesuai dengan tujuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa inteligensi merupakan faktor dalam bentuk yang lebih tinggi dari keterampilan motorik. Secara umum koordinasi motorik dan kecakapan untuk melakukan suatu kegiatan yang kompleks membutuhkan keterampilan motorik yang lebih kompleks pula. Kemampuan motorik dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena kematangan pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda, maka hal itu membawa akibat terhadap kecakapan motorik masing – masing, dan dengan demikian kecakapan motorik setiap individu akan berbeda -beda pula.
d.      Perbedaan dalam Latar Belakang Dalam suatu kelompok siswa, perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing – masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi individu untuk menguasai bahan pelajaran. Minat dan sikap individu terhadap sekolah dan mata pelajaran tertentu, kebiasaan – kebiasaan kerja sama, kecakapan atau kemauan untuk berkonsentrasi pada bahan – bahan pelajaran, dan kebiasaan – kebiasaan belajar semuanya merupakan faktor – faktor perbedaan antara para siswa.
e.      Perbedaan dalam Bakat Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan den pemupukan secara tepat. Sebaliknya bakat tidak dapat berkembang sama sekali, manakala lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang, dalam arti tidak ada ransangan dan pemupukan yang menyentuhnya. Perkembangan bakat dimiliki siswa secara individual. Meskipun inteligensi umum merupakan faktor dari hamper semua atau bahkan semua bidang penampilan atau performasi, namun hasil tes inteligensi yang selama ini dilaksanakan beum terkait dengan beberapa bidang belajar seperti keterampilan motorik, musik, seni, dan olah raga. Hasil tes inteligensi lebih banyak berhubungan dengan keberhasilan atau kemampuan bidang akademik.
f.      Perbedaan dalam Kesiapan Belajar Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan, yang meliputi perbedaan sosio- ekonomi dan sosiokultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya, anak – anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas, dalam hal ini pelajaran di sekolah. Kondisi fisik yang sehat, dalam kaitannya dengan kesehatan dan penyesuaian diri ang memuaskan terhadap pengalaman – pengalaman, disertai dengan rasa ingin tahu yang amat besar terhadap orang – orang dan benda – benda, membantu berkembangnya kebiasaan berbahasa dan belajar yang diharapkan. Sikap apatis, pemalu, dan kurang percaya diri, akibat dari kesehatan yang kurang baik, cacat tubuh, dan latar belakang yang miskin pengalaman, mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setiap individu memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dapat di lihat dari segi perbedaan fisik, sosial, kepribadian, intelegensi, dan kemampuan dasar seseorang. Serta perbedaan kecakapan seseorang atau kepandaian yang semuanya itu sangat barpengaruh terhadap prilaku individu. Dengan demikian tingkat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya berbeda - beda, sesuai dengan kepribadian masing-masing. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolic. Perkembangan adalah bertambah kemampuan (skill) dalam struktur da fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Perkembangan menyangkut adanya proses pematangan. Sel - sel tubuh, jaringan tubuh, organ - organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa, sehingga masing - masing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga emosi, dan intelektual. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan atau perilaku fisik. Seperti marah, senang, sedih, ceria dan sebagainya.
Dalam perkembangannya setiap orang akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan di bantu , memberi dan di beri. Secara potensial manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial. Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut ia harus berada dalam interaksi dengan lingkungan manusia-manusia lain. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan anugerah dari Tuhan Allah, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam, dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya. Bakat merupakan kemampuan tertentu yang di miliki oleh seseorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan kemampuan itu dapat berkembang. Bloom mengemukakan bahwa tujuan akhir proses belajar di kelompokkan menjadi tiga sasaran yaitu: Penguasaan pengetahuan (kognitif), Pengiasaan nilai dan sikap (afektif), Penguasaan psikomotorik.

B.     Saran
Dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik, pendapat, dan saran yang bersifat dan dapat membangun sangat diharapkan, agar maklah ini menjadi jauh lebih baik dan dapat memberikan manfaat serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.  



DAFTAR PUSTAKA


Muhammad Syafi. 2009. Melihat Tingkah Anak: Suatu Pendekatan dalam Pendidikan. Semarang: PT. Makmur Jaya.

Sunarto, Hartono Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar